ginotte

Ask me anything   Submit   mariana, gina / 22 years old / liverpudlian / indonesian / bandung / sundanese / twitter @ginotte or facebook: Gina 'ginot' Mariana M

twitter.com/ginotte:

    My Condolences

    Baru sekali kemarin saya lihat kucing dibawa pemiliknya dengan kondisi sekarat, ketika saya sedang menunggu kucing saya, si Bubu, di-nebu. Nebu itu semacam perawatan untuk gangguan pernapasan atau flu. Bahasa awamnya, di-uap. Tujuannya supaya kotoran di dalam hidung dan matanya keluar. Nebu biasanya dilakukan sekitar 25 menit, di ruangan tertutup.

    Sedang menunggu, tiba-tiba asisten si dokter lari membawa kucing sekarat, kemudian diikuti pemiliknya, seorang bapak dan seorang pria yang umurnya mungkin tak jauh dari saya. Mereka harap-harap cemas, dan spontan, saya juga. Kucing itu hampir tak bergerak. Dokter langsung memasangkan alat bantu pernapasan dengan tabung oksigen. Sambil dipijat dan dirangsang ke-sensitif-annya dengan mengorek-ngorek kupingnya. Karna biasanya telinga kucing lebih peka terhadap sentuhan ataupun suara. Tapi nihil. Semua usaha gagal.

    Sampai akhirnya si kucing muntah. Kata dokter, biasanya sebelum mati, kucing memang akan muntah untuk terakhir kalinya. Mengeluarkan kotoran yang ada di dalam perut. Setelah itu, dokter bilang napasnya berhenti. Meski denyut jantungnya masih ada. Dalam hal ini, dia sudah koma. Tak lama, akhirnya kucing itu mati. Badannya langsung kaku dan menciut. Saya menangis. Bahkan sejak kucing itu datang-sekarat-dan akhirnya mati. Bukan yang pertama saya menangisi kucing, karena saya juga pernah kehilangan kucing2 saya.

    Semakin sedih ketika si ayahnya bilang “yah… sekarang nggak ada yang rusuh lagi di rumah.”

    Anaknya bilang, “Kalo pulang kerja, nggak ada lagi yang heboh loncat-loncat di kaki Aa”

    Haaaaahhhhh… selalu nggak pernah bisa nggak sedih untuk urusan kucing. Bahkan ketika sakit pun, rasanya nggak tega.

    Dan saat itu, pertama kalinya saya lihat kucing dibungkus untuk dikafani, lalu dibawa pulang oleh pemiliknya. Selama ini, saya tidak pernah mau melihat kucing-kucing saya yang mati itu dikubur, karena saya hanya ingin menganggap mereka masih ada di sekitar. Hanya saja mereka tidak pulang. Dengan begitu, saya tidak akan terus membayangkan ketiadaan mereka. Karena terkadang ada tempat-tempat atau kebiasaan tertentu yang selalu mengingatkan saya kepada mereka.

    Cengeng kedengarannya. Ya, saya memang sangat cengeng untuk urusan kucing. Sangat cengeng. Bangun tidur, sebelum tidur, pulang ke rumah dari aktivitas di luar, yang saya ingat yaa kucing. Rasanya seperti anak sendiri mungkin.

    Well, kepada bapak dan anaknya yang baru saja ditinggalkan, saya turut berduka cita. Pasti sangat sepi di rumah. Semoga kalian mendapat penggantinya. AMIN. 

    — 3 months ago