Engkau yang tetap mengharapkan cinta dalam penelantaran, sadarkanlah dirimu …
Engkau semakin menua, dan dengan kesedihan itu engkau menjadi semakin kurang menarik bagi orang lain yang mungkin akan lebih memuliakanmu.
Mengapakah kau korbankan kebaikan hati dan dirimu untuk orang yang tidak merawat hatimu?
Apakah hatimu juga buta terhadap kesedihan orang tua dan mereka yang menyayangimu – yang tak rela melihat penistaan atas dirimu?
Seberapa lumpuhkah pikiranmu dan seberapa mati rasa-kah hatimu, sehingga engkau merendahkan dirimu dalam pengemisan tak berjawab seperti itu?
Hormatilah dirimu, jika engkau ingin mendapatkan cinta yang menghormatimu.
Pengemis cinta hanya sesuai bagi penelantar cinta.
Mario Teguh – Loving you all as always
MTGW – Serigala Asmara, Buaya Cinta
================================================================================
Cinta berkembang dalam rasa hormat, dan mati dalam pengabaian.
Jika dia mencintaimu, dia akan menghormatimu, dan tak akan menelantarkanmu dalam pengabaian.
================================================================================
Rasanya seperti digampar. Lalu sadar. Tapi lantas muncul quote lagi …………..
Berhati-hatilah dengan pernikahan yang dimulai dengan:
“Habis, bagaimana lagi?”
Sebuah pernikahan sebaiknya tidak dimulai dengan perasaan hutang budi, terlanjur janji, terlanjur salah, tidak ada pilihan lain, yang mau hanya dia, kalau nggak sekarang kapan lagi, dan bentuk keterpaksaan yang sejenisnya.
Putuskanlah pernikahan Anda dengan penuh kasih dan suka cita.
Dan jika karena terpaksa pun, jadilah pasangan hidup yang setulusnya mencintai dan memuliakannya.
Kebaikan adalah hak bagi yang memperbaiki diri.
Jadi intinya,
RUMIT.
sekian