THE ONE
Ada yang bilang kalau setiap orang pasti punya seseorang yang tak dapat dilupakan. Ia bersemayam dalam hati, terkadang menghantui, dan bahkan selalu muncul di saat-saat tertentu. Ia terkadang dapat menjadi pengobar semangat, namun dalam waktu yang bersamaan pula dapat menjadi sesuatu yang menghancurkan. Kenapa? Karena terkadang ia membuat kita diam di tempat yang sama. Bertahun-tahun menanti atau bahkan tak sanggup melupakannya. Seolah takkan ada yang mampu menggantikan.
Dalam kenyataannya, tidak ada orang yang sama persis. Bahkan dua orang kembar pun tidak sama. Ada perbedaannya. Lantas berharap mendapatkan pengganti seseorang itu menjadi mustahil bukan?! Tapi kenyataan itulah yang banyak tak dapat diterima oleh sebagian orang. Termasuk aku.
Aku punya cinta pertama. Kusebut ia sebagai cinta pertama, karena ia-lah yang membuat aku menyukai laki-laki untuk pertama kalinya. Sebelumnya, kebiasaan saya bermain bersama anak laki-laki sewaktu kecil membuat saya merasa sama dengan mereka. Bahkan ketika ada yang mulai menyukaiku, aku malah sering memukulnya ketika dia mendekat. Tapi berbeda ketika aku melihat RM. Aku yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD, tiba-tiba mempunyai perasaan lain. Kami yang tidak pernah saling menyapa itu, akhirnya hanya tahu nama masing-masing dari orang sekitar. Tak lama setelah diam-diam menyukainya dan memperhatikannya, aku beranikan diri untuk mengatakannya pada seorang teman. Satu orang mengatakannya pada yang lain, hingga kemudian banyak yang tahu. RM sendiri akhirnya pun tahu. Saat itu ia hanya menganggapku seorang anak kecil yang menyukai ‘idola’nya. Tak banyak pertemuan kami. Hanya acara-acara besar tertentu dalam satu tahun. Seperti Idul Fitri & Idul Adha, 17 Agustus, dan acara besar lainnya. Itu berlangsung hingga hampir 11 tahun, yang berujung pada keberangkatannya untuk bekerja di Jepang di awal tahun 2011. Sejak itu, aku hanya bisa melihat foto-fotonya dari dunia maya. Meski sebelum keberangkatannya hubungan kami mulai mengalami kemajuan, tapi sepertinya sudah terlambat. Aku dan dia sudah dijauhkan sebelum kami mendekat
Aku juga punya cinta kedua, di sela-sela perasaanku pada cinta pertama. Perasaan itu kutemukan pada saat beranjak SMP. Pertemuan kami cukup unik. Berawal dari pertemuan kedua orangtua yang memang sudah berteman sejak sekolah, aku diberi nomor telepon sang anak. Sejak itu aku dan SPR berteman baik. Kami sering mengirim pesan teks dan juga saling bertelepon. Hubungan kami pun semakin intens dan mulai masuk dalam tahap yang unik pula. Banyak kenangan bahagia bersamanya. Tidak ada satu masalahpun, sampai akhirnya di 3 tahun kebersamaan kami, harus berhenti saat ia meneruskan kuliahnya di Jerman. 2004 menjadi tahun yang berat. Saat itu pula bersamaan dengan perjuanganku untuk masuk ke SMA. Hal sulit menyebabkan konsentrasiku hancur. Untung saja aku bisa lulus meski dengan nilai terbatas. Mengobati kerinduanku, kuputuskan untuk masuk ke SMA dimana SPR pernah bersekolah selama 1 tahun. Tapi itu justru menyiksa. Aku sering membayangkan kejadian yang pernah SPR ceritakan tentang sekolahnya padaku dulu. Tahun 2004 pulalah pertemuan terakhir kami. Ia sudah jarang kembali pulang, bahkan pulangpun enggan bertemu karena sebelum ia pergi, kami sempat bertengkar. Pertengkaran yang tidak pernah kami selesaikan.
Lama aku bertahan pada dua cinta itu, dua cinta yang tak pernah terselesaikan. Meski memiliki dua orang yang tak terlupakan, perlahan aku membuka hati kepada yang lain. Aku sempat bertemu lagi dengan laki-laki yang dapat membuatku nyaman. Aku merasa mempunyai hati yang baru. Karena aku sadar, cinta sebelumnya takkan pernah bisa tergantikan. Tapi tetap bisa diisi. Namun ternyata aku dihadapkan pada perbedaan keyakinan yang sangat sulit untuk bisa diterima dari sisi keluargaku. Lalu kuputuskan untuk mengakhirinya sebelum semuanya tak mampu lagi diselesaikan.
Pada akhirnya, orang-orang tak terlupakan itu tetap ada. Semua orang pun pasti memilikinya. Semua orang berhak menyimpannya baik sengaja maupun tak sengaja. Aku belajar melupakannya dengan berhenti memikirkan masa lalu, dengan berhenti berhubungan dengannya. Itu akan hilang perlahan meski tidak akan hilang total. Bagaimanapun kejadian indah pasti tetap melekat pada ingatan. Aku bersyukur pernah memiliki hal-hal itu. Hanya dengan orang barulah aku bisa melangkah ke depan. Orang baru yang mampu menciptakan kenangan-kenangan lebih indah dari masa lalu. Orang baru yang ingin aku berakhir bahagia bersama selamanya.
Bandung, 13 Nov 2011
10:43 AM
-G-